308 BP 358, dan RBGN 371. Tanaman kopi ditanam dengan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m, dengan pohon penaung gamal (Gliricidia sepium) dan pisang (Musa paradisiaca) dengan jarak tanam 5 m x 5 m, serta kemiri sunan (Aleurites trisperma Blanco) dengan jarak tanam 10 m x 10 m. Penarikan contoh tanaman kopi pada masing- Tanamankopi tumbuh optimum di tempat dengan curah hujan 2. 000 - 3. 000 mm per th., dengan 3 bln. kering, namun memperoleh "hujan kiriman" yang cukup. tanaman kopi tetap tumbuh baik di tempat dengan curah hujan 1. 300 - 2. 000 mm per th., seandainya tanaman kopi diberi mulsa serta irigasi intensif. Selanjutnyabenih kopi arabika disemai sedalam 0,5cm dengan jarak tanam 2,5cm X 5cm. Benih diletakan dalam posisi tertelungkup. Dengan jarak tanam seperti itu, maka satu meter persegi dapat menampung jumlah bibit sebanyak 800 benih bibit. Negara Brazil merupakan produsen kopi terbesar di dunia sedangkan konsumen kopi terbesar di dunia yaitu cash. Mahasiswi jurusan Agroekoteknologi konsentrasi Bioteknologi Pertanian Universitas Udayana yang tertarik dalam bidang tulis menulis. Selain bekerja sebagai freelance content writer, ia juga menulis artikel blog untuk sebuah NGO di kita semua sudah sangat familiar dengan kopi kan? Ya, produk perkebunan ini merupakan salah satu minuman yang sangat populer selain teh. Selain itu, kopi juga dimanfaatkan di bidang kecantikan, misalnya digunakan untuk Anda kreatif, banyak yang bisa dimanfaatkan dari tumbuhan ini, tidak hanya biji kopinya saja, namun daunnya juga dapat dimanfaatkan menjadi minuman yang biasa dikenal dengan coffe leaf tea’. Jadi, daripada hanya dibuang saat pemangkasan, daun kopi dapat dimanfaatkan menjadi produk minuman sendiri merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia. Jenis kopi yang ditanam di Indonesia antara lain arabika, robusta, dan liberika. Kopi arabika berdaun kecil dan tebal dan ditanam pada ketinggian 1000-1500 mdpl, kopi robusta berdaun lebar dan tipis dan ditanam pada ketinggian 40-900 mdpl, kopi liberika berdaun lebar dan tebal dan umumnya ditanam pada lahan juga Fakta! Kebun Kopi Indonesia Terluas, di atas Brazil dan VietnamSecara umum, kopi sebaiknya ditanam di daerah dengan curah hujan 1500-3500 mm per tahun dan di daerah dengan bulan kering curah hujan kurang dari 60 mm/bulan, maksimum 3 kopi Arabika tipe iklim kering dengan ketinggan 900 mdpl adalah S 795 dan Gayo I. Tipe iklim kering dengan tinggi tempat lebih dari 1000 mdpl, contohnya Andungsari 2K dan Komasti. Tipe iklim kering dengan tinggi tempat lebih dari 1250 mdpl, contohnya Andungsari 1K dan Gayo 2. Selain itu, contoh kopi Arabika tipe iklim basah dengan ketinggian lebih dari 100 mdpl adalah Sigarar untuk jenis kopi robusta, tipe iklim kering dengan ketinggian 0-900 mdpl antara lain BP 936, BP 939, BP 409, BP 534. Tipe iklim basah dengan ketinggian 0-900 mdpl yaitu BP 436, BP 538, BP 936, dan BP juga Karakteristik Kopi Robusta yang Perlu Anda Ketahui!Sumber memilih kopi yang akan dibudidayakan adalah memilih sesuai dengan kondisi lingkungan penanamannya. Jika lahan yang ditanami terdapat banyak cacing nematoda pada akar, maka bibit harus disambung dengan batang bawah yang tahan nematoda seperti klon Robusta BP 308. Apabila berniat untuk jarang melakukan pemupukan, maka pilih kopi yang tahan terhadap kondisi tanah yang miskin nutrisi seperti Arabika S 795 atau Gayo Memupuk pada Tanaman KopiProduksi dan mutu kopi umumnya dipengaruhi oleh faktor varietas, tinggi tempat penanaman, pengelolaan kebun, pemupukan, teknik panen, dan teknologi pasca panen. Untuk pemupukan sendiri, tanaman kopi dipupuk dengan tujuanMeningkatkan produksi stabil danMengatasi keadaan ekstrim seperti diberikan 2 kali dalam setahun, yaitu pada saat awal musim hujan dan akhir musim hujan. Selain itu, pengaplikasiannya disesuaikan dengan jarak tanamnya. Berikut ini adalah aturan pemberian pupuk pada tanaman jarak tanam lebih dari 1 meter, maka pupuk diaplikasikan secara melingkar dengan jarak 30-40 cm dari batang dengan kedalaman penempatan 2-5 jarak tanam lebih kecil dari 1 meter dan dengan sistem pagar, maka pupuk diletakkan dalam jalur lurus diantara barisan kopi dengan jarak 30-40 cm dari mengaplikasikan pupuk, gulma atau rumput di sekitar kopi dibersihkan terlebih dahulu. Setelah ditabur, pupuk ditutup dengan pemupukan bibit, umumnya dilakukan secara massal dengan mencairkan pupuk yang kemudian diaplikasikan bersamaan dengan demikianlah aturan pemberian pupuk pada tanaman kopi, semoga bermanfaat ya! Selain itu, kita juga perlu mengetahui syarat hidup tanaman kopi sehingga dapat dibudidayakan dengan maksimal dan mendapatkan panen juga 4 Masalah pada Tahap TBM Kopi dan Cara MengatasinyaPenulis Nevy Widya Pangestika Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas UdayanaSudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di siniSumber Rekomendasi Pemupukan Umum Karet, Kelapa Sawit, Kopi dan Kakao oleh M. Anang Firmansyah, Penelitian di Balai Pengkajian Tekonologi Pertanian di Kalimantan dan Pemeliharaan Tanaman Kopi di Kebun Campur oleh Retno Hulupi dan Endri Martini, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Catatan Darmawan Masri* Mantra kupi Gayo “Wo Siti Kewe kunikahen ko urum kuyu, wih kin walimu, tanoh ken saksimu, lo ken saksi kalammu.” “Jadi petani itu kita ubah sekarang prinsipnya, petani keren dengan cara-cara baru untuk meningkatkan produksi,” kata Owner Asa Coffee Gayo, Armiyadi. Kopi nafas ekonomi masyarakat Gayo. Begitulah memang adanya. Hampir 95 persen masyarakat Gayo Aceh Tengah dan Bener Meriah serta sebagian Gayo Lues, bergantung hidup dari tanaman kopi. Soal cita rasa juga tak perlu diragukan lagi. Kini, kopi Gayo menjelma menjadi kopi terbaik di dunia. Berbicara harga, juga tentunya berbeda dengan kopi-kopi lain di dunia. Hanya saja, sistem perkebunan kopi di Gayo sendiri yang perlu diperbaiki. Saat ini, rata-rata produksi petani kopi Gayo, hanya menghasilkan 750 Kg grean bean perhektar, dengan nilai taksiran ekonomi hanya 40 sampai 45 Juta persekali musim panen. Sangat jarang, petani di Gayo mampu menghasilkan 2 ton grean bean untuk sekali musim panen. Jika melihat di negara penghasil kopi lain, Brazil minsalnya. Produksi kopinya menang jauh dari petani di Gayo. Perhektar permusim panen, petani di Brazil bisa menghasilkan 5 ton grean bean. Secara tekstur tanah, Gayo jauh lebih subur dibandingkan di Brazil. Kenapa demikian mencoloknya produksi kopinya? Nah, ini yang menjadi perhatian serius dari salah seorang petani kopi di Gayo, Armiyadi. Ia pun, kini mulai meniru pola tanam di Brazil, untuk dikembangkan di Gayo. Saat bincang-bincang bersama owner Asa Coffee Gayo ini mengatakan, dirinya tengah meniru pola tanam sistem pagar, yang sudah lama digalakkan di Brazil. “Sistem pagar ini di Brazil sudah lama, sementara di Gayo ini baru. Dan kita sudah lakukkan saat ini,” kata Armiyadi. Berbekal tanah kebun 2 hektar di kawasan Atu Gajah Reje Guru, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Armiyadi kini mengembangkan model tanam sistem pagar. Ia bercerita, di dua hektar tanah tersebut dia kini menenami kopi dengan sistem pagar. “Satu hektar kini sudah mulai berbuah, saya tanami jaraknya 80 x 80 cm untuk satu batang kopi dengan jarak baris 3,75 meter. Satu hektar di jarak ini, ada 3300 batang kopi,” kata Armiayadi. Satu hektar lainnya, Armiyadi kemudian menanami dengan jarak 80 x 80 cm untuk satu batang kopi dengan jarak baris 3 meter. Alhasil, dirinya dalam satu hektar terdapat 4000 batang kopi. Populasi kopi perhektar ini, menurut Armiyadi jauh lebih baik dua kali lipat dari model tanam konvensional yang selama ini ditanami oleh petani kopi Gayo. “Jika melihat pola konvensional yang diajarkan leluhur kira dulu, pola tanam jarang dengan populasi hanya 1800 batang perhektarnya. Model ini, jauh kalah banyak dua kali lipat jika menggunakan model taman sistem pagar,” ungkapnya. Ia pun kemudian, menamai kebunnya tersebut dengan kebun model. Kenapa demikian, ia berasalah belum layak untuk menamai kebun dengan pola tanam sistem pagar sebagai kebun contoh. “Artinya, disini kita masih sekolah. Makanya sebutin dulu kebun model. Model mana yang nanti produksinya bagus, baru kita namai kebun contoh. Karena dalam 2 hektar lahan yang kini sudah ditanami, ada beberapa model yang diterapkan. Contoh, ada pakai naungan ada yang tidak,” kata Armiyadi. Ia pun mengaku, terinspirasi dari pola tanam sistem pagar di Brazil. Hasil yang melimpah, dengan tanah yang tidak begitu subur, menjadi faktor dirinya berpikir, kenapa tidak pola tanam seperti itu dikembangkan di Gayo. “Dan tentunya, masih banyak kajian-kajian yang harus dilakukan, namanya juga sekolah, ya harus belajar kan,” tukasnya. Armiyadi saat menjelaskan sistem tanam pagar ke petani yang berkunjung ke kebun kopi miliknya. Ist Dikatakan lagi, pola tanam sistem pagar dari segi biaya juga lebih irit. Ia mencontohkan, untuk 4000 batang kopi, jika ditanam dengan pola tanam konvensional, maka dibutuhkan lahan sebanyak 2 hektar. Sementara untuk sistem pagar, 4000 batang hanya ditanam di lahan seluas satu hektar saja. “Coba kita perhatikan, untuk ongkos babatnya saja. Satu hektar minsalkan, 1 juta. Kita punya 4000 batang kopi di lahan 2 hektar, kita harus keluarkan uang 2 juta kan. Kalau sistem pagar, 4000 batang kita tanam di lahan 1 hektar, dan biaya babatnya hanya satu kan. Jauh lebih hemat,” jelas Armiyadi. Dengan pola taman yang rapat, sistem pagar katanya lagi, tidak mengenal sistem pemangkasan. Ia menyebut, sistem pagar ini disebut juga sebagai kebunnya orang malas. Kata dia, dari segi biaya pemangkasan kopi juga membutuhkab biaya yang tidak sedikit. Sementara dengan sistem pagar, biaya pemangkasan tidak perlu dikeluarkan. Dari segi produksi, jika melihat dengan kebun kopi di Brazil, Armiyadi beranggapan sistem pagar harusnya juga bisa meningkatkan hingga 5 kali lipat produksi kopi di kebun konvensional perhektarnya. “Kenapa itu bisa terjadi, karena populasi kopi perhektarnya lebih banyak dari sistem tanam konvensional. Otomatis meningkat,” ucap dia. “Di sistem pagar ini, kita hanya mengandalkan cabang lurusnya saja Gayo cabang selalu,” tambah Armiyadi. Sejauh mana cabang lurus dari kopi bisa bertahan, menurut Armiyadi, bisa sampai 8 hingga 12 tahun. Artinya, dalam kurun waktu itu, tanaman kopi harus diganti. “Pola sistem pagar ini, memang tidak bertahan lama hingga puluhan tahun seperti pola tanam konvensional. Hanya saja, kita dapat menggantinya dengan cepat, di ruang yang jaraknya tadi 3 meter lebih. Tanami lagi, dengan sistem pagar,” katanya. “Sebelum kopi yang sudah berusia 8 atau 12 tahun ditebang, yang kita tanam itu sudah belajar untuk berbuah. Jadi dia tidak putus. Begitu terus siklusnya,” tambahnya. Selain, dari produksi yang meningkat dan hemat biaya, sistem pagar juga memudahkan aksesibilitas petani. Pola pengerjaan yang gampang, dan ruang gerak yang bebas. Lebih-lebih, baris antar kopi juga tertata dengan rapi dan indah. Menurut Armiyadi, untuk menyamai produksi dengan sistem pagar di Brazil, juga dibutuhkan pendukung berupa laboratorium untuk menguji unsur hara tanah. “Di Brazil, para petani dengan mudah dapat menguji unsur hara apa yang kurang di kebun kopinya. Nah, ini yang menjadi kendala kita di Gayo, tidak punya lab untuk menguji itu. Ke depan semoga ada,” harapnya. Dari sisi pemanenan, sistem pagar juga lebih efektif meski masih mengandalkan tenaga manusia. “Di Brazil, yang pakai mesin itu, perusahaan besar, bukan petani seperti di kita ini. Kalau petani disana, juga masih pakai tenaga manusia untuk memanennya,” jelasnya. “Artinya apa, kalau memanennya itu urusan ke 18 saya kira. Saat ini, target kita bagaimana caranya produksi kopi seperti yang di Brazil itu bisa pindah ke tanoh Gayo dulu,” kata dia. Lebih lanjut disampaikan, pola pikir dari masyarakat Gayo juga perlu diubah. Makanya, dia kini mengkampanyekan, petani keren untuk membakar semangat generasi muda di tanoh Gayo tersebut. “Artinya apa, saat ini kita harus berfikir kenapa Brazil bisa, kita disini tidak. Harus ubah dulu mindset kita, kalau model pagar ini lebih menghasilkan, kenapa harus memperrtahankan yang konvensional,” tegasnya. Kebun milik Armiyadi dengan pola tanam sistem pagar dilihat dari udara. Ist “Jadi petani itu harus keren, itu yang harus ditanamkan ke generasi muda kita yang saat ini mindsetnya masih bercita-cita jadi ASN. Maka, dikebun model ini saya sengaja buat, rumah kebunnya Gayo Jamur yang keren juga,” tambahnya. Begitu juga dari penghasilan, jika selama ini berkebun kopi banyak yang menjadikan penghasilan tambahan, maka harus di ubah dengan dengan penghasilan utama. Dengan apa? Armiyadi mengatakan, dengan meningkatkan produksinya. “Lalu, timbul pertanyaan. Di Brazil iklimnya beda dengan di Gayo. Ya memang benar, di Brazil punya iklim tegas. Musim kemarau dan hujan terdapat pemisah. Maka dari itu, kopi disana sekali berbunga, dan panen 3 kali, panen awal, pertengahan dan akhir. Dengan cepat bisa diketahui produksinya pertahun berapa,” ujarnya. “Di Gayo iklimnta berbeda menang, kopi tidak berbunga sekalian. Panennya pun bisa sampai 10 kali dalam satu musim. Itu tidak menjadi kendala saya kira. Yang harus kita lakukan saat ini belajar dan belajar, kalau memang pola ini produksinya meningkat, kenapa harus pertahankan yang lama,” demikian timpal Armiyadi. [] Comments comments

jarak tanam kopi di brazil